DIALOG DENGAN SEORANG ATHEIS (Bag 2)

Berikut ini adalah lanjutan perbincangan Saya ketika masih menjadi mahasiswa dengan seorang mahasiswa yang menyatakan bahwa dirinya tidak mempercayai Tuhan. Dialog ini dituliskan secara maknawi tidak secara harfiah, sebab telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Untuk mengetahui dialog sebelumnya, silakan baca bagian pertama terlebih dahulu.

Saya : Kedua, jika Sang Pencipta atau Tuhan itu tidak ada, maka darimanakah Anda berasal?

Atheis : Dari kedua orang tua Saya.

Saya : Dari manakah kedua orang tua Anda berasal?

Atheis : Dari kedua orang tua mereka

Saya : Baiklah, dari mana asal nenek moyang orang tua Anda. Saya harap Anda menjawab dengan lebih baik dan tidak mengulang-ulang! Apakah mereka berasal dari sesuatu yang tidak ada ataukah mereka diciptakan?

Atheis : (terdiam) hm…

Saya : Manusia pertama, dari mana dia berasal?

Atheis : Dari proses evolusi

Saya : Anda meyakini mitos evolusi?

Atheis : Iya

Saya : Baiklah, apa yang Anda fahami tentang evolusi?

Atheis : Makhluk hidup yang kompleks berasal dari makhluk hidup yang sederhana

Saya : Baiklah, Saya terima definisi Anda walaupun definisi sebenarnya bukan demikian. Apa yang Anda maksud dengan makhluk hidup komplek berasal dari sederhana?

Atheis : Ya maksudnya, makhluk mutisel berasal dari unisel

Saya : Oke, berasal dari mana makhluk unisel?

Atheis : Dari senyawa organik yang terbentuk melalui anorganik.

Saya : Baiklah, dari mana asal senyawa anorganik tersebut?

Atheis : Sudah ada secara alami di bumi

Saya : Bagaimana bisa senyawa anorganik tersebut berubah menjadi organik?

Atheis : Ya… banyak teori sih. Tapi akibat kekuatan alam seperti petir, suhu dan hujan yang mengubah molekul anorganik menjadi organik.

Saya : Lalu bagaimana bisa senyawa organik membentuk sel hidup yang kompleks?

Atheis : Ya akibat faktor alami. Kekuatan alam yang memaksa atau menyebabkannya

Saya : Baiklah, walaupun sangat tidak saintifik, Saya ingin bertanya dari manakah asal kekuatan alam tersebut?

Atheis : Ya dari alam itu sendiri.

Saya : Jadi Anda meyakini bahwa faktor atau kekuatan alam ini yang merubah zat anorganik menjadi organik, lalu menjadi sel sederhana, kemudian menjadi lebih kompleks, lalu menjadi multisel, lalu membentuk jaringan, kemudian berjalan secara jutaan tahun akhirnya muncullah manusia seperti kita, kera, tumbuhan dan lain sebagainya?

Atheis : Kurang lebih demikian

Saya : Berarti Anda meyakini bahwa alam lah yang memiliki kekuatan yang mempu menciptakan makhluk hidup?

Atheis : Saya tidak mengatakan menciptakan

Saya : Lalu apa dong?

Atheis : Merubah

Saya : Oke. Mari kita definisikan dulu arti kata mencipta. Bukankah mencipta itu artinya mengadakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada? Sepakat tidak dengan definisi ini?

Atheis : Iya, kurang lebih demikian

Saya : Sebelum senyawa organik terbentuk, kan yang ada hanya senyawa anorganik kan?

Atheis : Hm… iya

Saya : Senyawa organik, sel, multisel bahkan makhluk komplek seperti tanaman, ikan, reptil, primata dan manusia, apakah sudah ada?

Atheis : Belum

Saya : Oke. Boleh tidak Saya mengatakan bahwa senyawa organik terbentuk atau tercipta dari senyawa anorganik, dan sel terbentuk atau tercipta dari senyawa organik, kemudian multisel dari unisel, dan seterusnya?

Atheis : Itu berubah…

Saya : Berubah dari apa? Bukankah yang terbentuk adalah senyawa atau sifat baru?

Atheis : Iya

Saya : Jadi apakah salah kalau disebut bahwa zat organik tercipta dari anorganik?

Atheis : Hm… ya tidak juga sih

Saya : Dan itu semua berubah sifatnya disebabkan oleh faktor alam?

Atheis : Iya

Saya : Jadi, menurut Saya, dengan mitos insaintifik ini, Anda dan para pendukung mitos evolusi sebenarnya meyakini bahwa alam lah yang memiliki pengaruh, sehingga terbentuk atau berubah menjadi sebuah sifat baru. Dengan kata lain, Anda dan pendukung mitos evolusi itu meyakini bahwa alam itu sendiri itu adalah tuhan.

Atheis : Lho koq bisa?

Saya : Sangat bisa! Jika bukan karena faktor alam, apa mungkin perubahan itu terjadi?

Atheis : Hm… tidak tahu

Saya : Baiklah, dari mana kekuatan alam itu berasal?

Atheis : Tidak tahu

Saya : Apa terjadi dengan sendirinya?

Atheis : Bisa jadi

Saya : Apakah Anda mempercayai, jika jam tangan Saya ini terbentuk dengan sendirinya?

Atheis : Ya tidak lah

Saya : Lantas, bagaimana bisa Anda mempercayai manusia yang jauh lebih kompleks dari jam tangan, terbentuk dengan sendirinya?

Saya : Ataukah Anda mempercayai bahwa sesuatu itu ada karena mereka menciptakan diri mereka sendiri?

Atheis : Ya tidak lah

Saya : Lantas dari mana mereka berasal?

Atheis : Hm…

Saya : Jadi kawan, sebenarnya kita semua ini ciptaan. Dan dari ciptaanlah kita bisa mengetahui bahwa Sang Pencipta itu ada. Dulu orang Arab Badui saja meyakini bahwa Tuhan itu ada, dan ketika ditanya apa buktinya. Dia menjawab : kotoran unta itu menunjukkan akan adanya unta. Tidak mungkin kotoran itu ada dengan sendirinya. Anda, yang hidup di dunia modern ini, pasti meyakini bahwa TV, komputer dls itu ada yang menciptakan, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Lantas bagaimana mungkin dunia dan alam semesta ini dengan segala kekompleksitasannya dan keseimbangannya ada dengan sendirinya? Kalau ada yang berpendapat demikian, maka orang tersebut orang yang tidak berakal!

Bersambung

Iklan

Penulis: @abinyasalma

A Father to his precious Daughter | A Husband to his lovely wife | A Sunni Muslim | Writer - Translator - Blogger | Love to Run | @abinyasalma

3 thoughts on “DIALOG DENGAN SEORANG ATHEIS (Bag 2)”

  1. Sebuah logika yang bagus. saya beberapa kali mengontari blog yang pro Atheis. Saya temukan kesimpulan: para atheis merasa dirinya berakal, padahal sesungguhnya mereka tidak berakal. Smoga Allah SWT melindungi kita dari pikiran dangkal mereka.

  2. ya Allah…kaum muslim Indonesia-Malaysia telah di tipu, di adu domba…satukanlah kembali kaum muslim melayu ini kembali..

Pembaca yang baik meninggalkan komentar yang baik

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s