Murid adalah cerminan guru

image

Al Hafidz Ad Dzahabi mengatakan: Al-A’Masy meriwayatkan dari Ibrahim An Nakho’i . Ibrahim An Nakho’i meriwayatkan dari Alqamah bahwa dia -Alqamah- berkata: “Abdullah bin Mas’ud menyerupai Rasulullah dalam hal perangainya “. Dan AlQamah menyerupai Abdullah bin Mas’ud dalam hal itu.
Jarir bin Abdul Hamid mengatakan, “Ibrahim An-Nakha’i menyerupai Alqamah dalam hal yang sama, sementara Manshur mirip dengan Ibrahim -An Nakho’i-”
Disebutkan bahwa (perangai) Sufyan As Tsaury menyerupai Manshur, dan (perangai) Waki’ bin Jarrah menyerupai Sufyan As Tsaury. Dan (perangai) Imam Ahmad menyerupai Waki’ sementara (perangai) Abu Daud menyerupai Imam Ahmad. 
(Siyar A’lam An Nubala: 13/216)

Catatan:

Begitulah para ulama terdahulu, mereka tidak hanya mewariskan ilmu pada murid-muridnya, tapi juga mewariskan keluhuran akhlak yang menjadi hiasan pelengkap terhadap warisan ilmu tersebut.

Ada mungkin yang bertanya-tanya, apa iya murid yang jahat itu merupakan representasi dari guru yang jahat? 
Atau mungkin sang guru itu baik dan si murid saja yang jahat? 
Ataukah sang murid yang keliru bersikap karena salah dalam menginterpretasikan apa yang diajarkan sang guru?

Jawabannya sederhana, guru adalah acuan mental dan moral bagi murid. Sehingga papun yang dilakukan sang guru akan cenderung dijadikan pedoman oleh sang murid. Apalagi bila sang murid masih pada tahap pendidikan dasar.

Dalam Ilmu Nafs At Tarbawi (psikologi pendidikan) disebutkan bahwa dalam proses belajar mengajar terjadi proses induksi stimulus-respon, atau yang biasa kita kenal dengan hukum aksi-reaksi. Dimana besaran respon murid sangat ditentukan oleh seberapa besar aksi guru. Guru yang baik akan melahirkan anak didik yang baik, guru yang bersemangat akan melahirkan anak didik yang bersemangat, guru yang bertutur kata halus akan melahirkan anak didik yang berkarakter. 

Namun bagaimana mungkin semua itu akan terealisasi bila sang guru tidak bisa menjadi cermin yang baik bagi anak didiknya..?

Memang kaiidah diatas masih dikategorikan kaidah umum yang tentunya memiliki pengecualian. Tapi hukum terhadap sesuatu didasarkan pada apa yang sering terjadi (aghlab) bukan pada yang jarang terjadi (nadir).

Mari menjadi cermin yang baik untuk anak didik kita. 
Karena mendidik itu ibadah.

Semoga bermanfaat. 

__________________
Madinah 2 Shafar 1436 H
ACT El Gharantaly
Dishare kembali dari grup Telegram

Posted from WordPress for Android

Iklan

Penulis: @abinyasalma

A Father to his precious Daughter | A Husband to his lovely wife | A Sunni Muslim | Writer - Translator - Blogger | Love to Run | @abinyasalma

One thought on “Murid adalah cerminan guru”

Pembaca yang baik meninggalkan komentar yang baik

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s