TEKUN, TEKEN, TEKAN

Tiga kata dalam judul di atas merupakan kalimat inti dalam sebuah pepatah Jawa yang berbunyi: “Sapa Tekun, Golet Teken, Bakal Tekan” (Siapa tekun, mencari tongkat, niscaya sampai).

Tekun mempunyai pengertian, mengerjakan sesuatu dengan rajin, ulet dan tidak mudah putus asa atau putus di tengah jalan. Tak jarang orang yang tekun akan lebih sukses dibanding dengan orang cerdas tapi malas.

Teken, secara harfiah bermakna tongkat yang digunakan sebagai penegak orang ketika berjalan. Biasanya, teken dipakai oleh orang yang sudah lanjut usia. Dalam konteks piwulang atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk dan tuntunan hidup. Dapat juga berarti sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Orang yang mendapat teken adalah orang yang mendapat alat demi mencapai cita-cita hidupnya.

Tekan berarti kesampaian. Teken, tekun dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Barang siapa mau tekun, maka ia akan mendapat teken, dan ia akan segera tekan atau kesampaian pada apa yang menjadi harapannya. Proses panjang yang harus dilalui agar seseorang sampai pada tekan, seringkali diiringi oleh duri, derita dan rintangan. Dari laku tekun saja, membutuhkan waktu yang tidak pendek. Mendapat teken, bukan berarti halangan dan cobaan telah usai. Teken yang didapat itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya agar sampai, tanpa meleset. Setelah proses demi proses dijalani, barulah tekan atau berhasil….
Pitutur luhur di atas, seyogyanya tidak hanya dipahami dan diterapkan dalam perkara duniawi belaka.
Dalam konteks beragama, seorang yang bercita-cita menggapai surga, haruslah tekun dalam beramal secara terus menerus hingga ajal. Allah ta’ala mengingatkan,
“وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”
Artinya: “Beribadahlah kepada Allah hingga ajal mendatangimu”. QS. Al-Hijr (15): 99.
Namun, hendaknya harus senantiasa diingat bahwa dalam ketekunan beribadah kita membutuhkan teken dalam arti pedoman yang benar. Yakni berlandaskan al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ”
Artinya: “Taatilah Allah dan Rasul agar kalian dikaruniai rahmat”. QS. Ali Imran (3): 132.
Jika tidak demikian, maka dikhawatirkan tidak akan tekan atau sampai kepada tujuan kita bersama, yaitu surga Allah ta’ala. Sebab amalan yang dia lakukan berpeluang besar untuk tidak diterima. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mewanti-wanti,
“مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ”.
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah.

Oleh Ust Abdullah Zain
 Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Rajab 1435 / 22 Agustus 2014

Iklan

Penulis: @abinyasalma

A Father to his precious Daughter | A Husband to his lovely wife | A Sunni Muslim | Writer - Translator - Blogger | Love to Run | @abinyasalma

Pembaca yang baik meninggalkan komentar yang baik

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s