KISAH NYATA TAUBATNYA PENYUKA SESAMA WANITA

image

SELAMATKAN ANAK DENGAN KASIH SAYANG

Ini adalah kisah dua wanita penyuka sesama, atau l*sb*an, yang Alhamdulillah sudah kembali fitrah. Wanita pertama sudah menikah dan hidup bahagia, sementara wanita kedua sedang menjalani pendampingan.

Ada seorang ibu muda yang Japri saya beberapa waktu lalu, bertanya mengapa saya tidak sekalian menulis soal “L”? sebab buku terbaru saya hanya membahas soal kaum “G”.

Saya pun menjawab, bahwa saya belum melakukan survey mendalam soal itu. Di luar dugaan, ibu muda ini bercerita bahwa ia dulu bertahun-tahun pacaran dengan teman wanitanya. Nyaris tidak bisa putus, kalau saja tidak ada pemuda yang nekad melamarnya. Pemuda yang kini jadi ayah dari anaknya.

Saya tertegun. Berusaha untuk tidak menanyai lebih lanjut karena ini terkait masa lalu yang pasti ingin ia tutup rapat. Tapi ibu muda ini justru bilang, “Bisakah ibu menuliskan kisah saya? Saya ingin banyak orangtua melek soal ini. Bahwa apa yang mereka lakukan, bisa saja membuat anaknya menjadi belok..”

Saya seorang ibu. Tentu saja peringatan seperti ini membuat jiwa saya tersentak.

Tak kurang dari dua hari, obrolan kami berlangsung.

Wanita itu, sebut saja namanya Wati, awalnya adalah anak gadis biasa saja. Yang suka dandan, dan ngefans dengan boyband layaknya gadis seusianya.

Namun, Wati kecil hingga remaja tidak pernah memiliki hubungan emosional yang dekat dengan sosok ayah. Menurutnya, ayahnya sangat keras dan tidak bisa menjalin kedekatan dengan anak. sang ibu pun tak bisa berbuat banyak untuk menghadirkan kehangatan di dalam rumah.

Hal ini membuat Wati memutuskan pindah dari rumah orangtuanya, untuk kemudian ikut dengan neneknya di kota lain.

“Sejak ikut nenek hati saya merasa lebih bahagia. Orangtua juga sebenarnya sayang pada saya, ayah tidak pernah lupa mengirimi uang.. tapi mereka lupa bahwa saya ini dalam fase pembentukan jati diri. Jadi bukan hanya materi yang saya butuhkan, tapi juga kasih sayang dan sikap bersahabat..”

Kasih sayang dan kedekatan. Ini yang tidak terbeli oleh Wati, dari orangtuanya. Sekadar obrolan dan telefon yang ia rindukan, juga tidak kunjung diberikan.

Hingga saat ia kuliah, meledaklah dinamit itu. Ia mendengar kabar bahwa ayahnya berselingkuh. Kebencian terhadap sosok ayah pun semakin menjadi.

“Sejak saat itu saya mulai hilang kepercayaan terhadap lelaki. Saya benci lelaki. Kalau orang terdekat saya saja menyakiti saya, apalagi lelaki lain di luar sana?”

Namun Wati juga tidak serta merta menjadi penyuka wanita. Jauh di dalam hatinya, ia masih mendambakan sosok pria yang baik, untuk menjadi teman hidupnya. Tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikirannya, untuk banting stir menjadi “L”.

Tapi Wati yang gusar dan labil, rupanya menjadi sasaran empuk bagi Nuri (bukan nama sebenarnya) teman kuliah yang sudah lama mengincarnya. Nuri sendiri adalah wanita tomboy, yang sudah lama malang melintang di dunia “L”

Dimulailah pendekatan itu. Sangat gencar dan sistemik. Wati terus dipepet, dibanjiri perhatian, pengertian, kasih sayang, waktu.. segala hal yang dulu tidak ia dapatkan dari orangtuanya.

Wati luluh. Hingga saat Nuri menyatakan cinta dan mengajaknya berpacaran, Wati pun menyambut ajakan itu tanpa ragu.

“Sebenarnya sudah banyak teman  yang mengingatkan saya, jangan mau didekati Nuri karena dia itu L. Tapi saya tidak peduli. Karena nyatanya memang hanya dia yang sayang dan peduli pada saya..”

Singkat cerita,
Hubungan mereka akhirnya berjalan hingga 1,5 tahun.
Sedalam apa hubungan itu? Sedalam orang yang ketergantungan satu sama lain. Ayah ibu Wati akhirnya tahu bahwa anaknya menjadi “L”, karena laporan dari kawan Wati yang simpati dengan keadaannya.  Tapi upaya mereka untuk memisahkan dua wanita itu selalu menemui jalan buntu. Wati selalu berhasil kabur dan kembali berpacaran diam-diam dengan Nuri.

Sejauh apa hubungan itu? Sangat jauh. Baik fisik maupun emosi.
Nuri rupanya bukanlah “L” yang memegang komitmen. Ia sering membawa wanita ke kost-nya, berganti-ganti.. dan parahnya dengan sepengatahuan Wati. Tapi Wati tidak bisa menggugat apa pun terhadap Nuri. Begitu Nuri memohon maaf, kembali lagi mereka merajut kisah percintaan tak wajar itu.

Hubungan mereka semakin dalam, semakin jauh, dan semakin merusak Wati.

Namun, akhirnya ada setitik sinar cerah datang di kehidupan Wati, saat ayah ibunya menyusulnya ke kota tempat ia kuliah. Dan meminta maaf padanya atas semua kesalahan mereka selama ini. Mereka menyadari bahwa ada andil mereka yang membuat Wati jadi menyimpang seperti ini.

Dan saat itu pula, jiwanya yang jenuh mendapat pencerahan dari rutinitas kajian di kampus.
“Satu titik balik saya adalah ketika ada seorang akhwat yang tahu bahwa saya berpacaran dengan Nuri. Dia bilang, ‘Dek, kamu jangan pernah berharap ayam akan beranak, dan anjing akan bertelur. Itu hal yang tidak mungkin. Taubatlah sebelum terlambat”

Satu tausiyah ringan ini, rupanya sanggup mengalahkan ribuan tausiyah yang ia pernah dengar sejak menjajal kehidupan sebagai “L” sejak itulah ia mulai berani mengambil keputusan untuk putus hubungan dengan Nuri.

Apakah semudah itu? Oh tentu tidak..

Nuri tentu tidak mau begitu saja dilepeh oleh Wati. Mereka pun putus sambung tak tentu arah, hingga Allah mengirimkan pertolongan pada Wati, berupa lelaki baik yang mengajaknya menikah.

Wati yang yakin dengan kebaikan lelaki ini, memilih untuk berterus terang soal masa lalunya. Dan lelaki ini pun menerima dengan tulus. Dengan alasan, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan.

“Alhamdulillah, semua berjalan begitu mudah. Ayah ibu senang mendengar kabar saya ingin menikah. Sejak itu hingga sekarang saya benar-benar putus hubungan dengan Nuri dan tak pernah bertemu lagi..”

Kini Wati sudah memiliki seorang anak, dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Ketika saya tanya, adakah masa lalu itu menghantui kehidupan rumahtangganya? Wati menjawab, bahwa suaminya ini sungguh sabar dan pemaaf, sehingga tak pernah sekalipun ia ungkit masa lalu itu.

Lalu Nuri?kabar terakhir yang didapat Wati, kini Nuri sudah memiliki kekasih baru (tentu saja wanita) dan tinggal serumah dengan pacarnya itu.

Wati, meski sempat terjatuh di jurang, masih beruntung karena ia akhirnya “diselamatkan”oleh pernikahan, dan lelaki baik yang begitu mengayominya. Masih banyak Wati lain, yang awalnya hanya coba-coba memasuki dunia ini, namun akhirnya keterusan dan ketagihan. Tidak tahu cara untuk lari dan kembali.

Ah..rupanya saya sudah kebanyakan menulis. Hingga kisah wanita satu lagi belum sempat saya tuturkan. Semoga masih ada waktu dan kesempatan, untuk saya bercerita soal wanita kedua. Semoga pula, postingan ini tetap bisa terbaca dan diambil manfaatnya.

Kita, orangtua muda, jangan pernah sekali pun lengah dalam memberikan kasih sayang, juga perhatian tulus pada anak-anak
.
Biarkan tanki kasih sayang mereka, kita penuhi dari rumah. Agar mereka tidak kelaparan, lalu mengais-ngais di sepanjang jalan.

Sebab kita tidak pernah tahu.. siapa yang akan mengisi tanki itu. Adakah seorang yang baik hatinya, atau predator yang siap memangsa anak kita.

Mari sayangi anak
Perhatikan anak
Berikan waktu untuk anak
Doakan anak
Hingga tak ada yang lebih dicari anak selain ibu bapaknya.

Wulan Darmanto
Penulis Buku “Suamiku dan Pacar Lelakinya”

Posted from WordPress for Android

Iklan

Penulis: @abinyasalma

A Father to his precious Daughter | A Husband to his lovely wife | A Sunni Muslim | Writer - Translator - Blogger | Love to Run | @abinyasalma

Pembaca yang baik meninggalkan komentar yang baik

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s