Teknik Survival Ketika Digigit Ular

Sebelum bicara tentang teknik survival ketika digigit ular, harus kita fahami dahulu bahwa mencegah adalah lebih baik daripada mengobati. Sebuah idiom mengatakan, prevention is the best cure, pencegahan adalah obat terbaik. Jadi, sebelum kita bicara masalah survival dari gigitan ular, maka lakukan dahulu langkah pencegahan dari digigit ular. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah, menggunakan sepatu boot atau sepatu gunung yang tebal dan menutupi mata kaki. Hindari bertelanjang kaki ketika kita berada di alam liar kecuali dalam keadaan darurat. Lanjutkan membaca “Teknik Survival Ketika Digigit Ular”

Iklan

5 DASAR KEAHLIAN SURVIVAL

Ada 5 dasar keahlian survival yang harus diketahui dan difahami oleh seorang petualang alam. Di sini Saya akan menurunkan hanya prinsip-prinsip dasarnya saja, bukan penjelasan mendetailnya. Sebelum membahas 5 dasar survival tersebut, ada satu elemen terpenting di dalam survival yang harus menjadi titik perhatian, yaitu apa yang ada di antara dua telinga Anda, otak. Satu hal yang penting lagi adalah : JANGAN PANIK, karena kepanikan akan menyebabkan segala pengetahuan dan pengalaman Anda hilang.

Lanjutkan membaca “5 DASAR KEAHLIAN SURVIVAL”

Pencinta Alam Antara Klaim Dan Realita

Pencinta Alam, mungkin istilah yang sering kita dengar. Kita cukup sering mendengar organisasi pelajar pencinta alam (PA), mahasiswa pencinta alam (mapala) dan semisalnya. Bahkan, rekan-rekan kartar pun punya organisasi PA. Namun, sayangnya, label nama “pencinta alam” ini kebanyakan hanya sekedar nama. Bahkan, ada juga stigma kepada rekan-rekan pencinta alam, bahwa mereka ini hobbynya hiking, caving, diving, climbing dan aktivitas lapangan lainnya, dengan stereotype khusus seperti berambut gondrong (bahkan agak gimbal), perokok (bahkan kadang juga suka ‘minum’), celana tampak lusuh dan lubang-lubang, pokoknya tampak kumal dan lusuh. Walau stigma ini belum tentu benar…

Tidak jarang pula, kita lihat ada rekan-rekan yang mengatasnamakan organisasi “pencinta alam” ini, buang puntung rokok sembarangan ketika hiking, bahkan botol minuman dan bungkus mie pun berserakan tidak karuan. Pohon-pohon pun diukir “xxx pala is here”, cat-cat pylox pun betebaran di bebatuan “xxx pala 2007” dst. Ini semua adalah realita yang pernah Saya saksikan langsung ketika juga masih aktif di organisasi “PA” di saat SMU dahulu. Dan saya yakin, sobat-sobat sekalian yang pernah naik gunung, mungkinpernah mendapati hal seperti ini. Lanjutkan membaca “Pencinta Alam Antara Klaim Dan Realita”

Surabaya Semakin Panas, Efek Global Warming-kah?

Beberapa tahun terakhir ini, saya merasa Surabaya koq semakin puanas (baca : panas banget). Tubuh ini tidak bisa lepas dari peluh keringat (kecuali kalau di ruangan ber-AC, lho), apalagi di siang hari. Semenjak kecil, saya sudah tinggal di Surabaya -bagaimana tidak?wong saya dilahirkan di Surabaya, walaupun ortu adalah perantauan-, tapi saya tidak pernah merasakan gerahnya cuaca Surabaya seperti tahun-tahun terakhir ini. Apa mungkin karena ‘lemak’ yang sudah mulai banyak bersarang di tubuh sehingga merasa lebih panas, ataukah karena faktor cuaca yang memang sedang ekstrem-ekstremnya?! Allohu a’lam.

Namun yang pasti, isuGlobal Warming sedang hangat-hangatnya saat ini. Dan, saya merasa yakin bahwa perubahan iklim dunia secara ekstrem ini memang ada pengaruhnya dengan Global Warming alias Pemanasan Global. Mungkin, banyak diantara kita sering mendengar Global Warming, namun belum begitu tahu apa sih Global Warming itu? Apa dampaknya, dan bagaimanakah solusi -atau minimal peran serta kita- untuk meminimalisir efek Global Warming ini. Baiklah, saya coba sharing sedikit ya?? Lanjutkan membaca “Surabaya Semakin Panas, Efek Global Warming-kah?”